Manusia itu mahluk yang
berpikir. Itulah yang membedakannya dari mahluk ciptaan Tuhan yang lain.
Tumbuhan-tumbuhan dan binatang tidak dapat berpikir. Hanya manusia yang
diciptakan dengan gambar dengan-Nya,
Imago Dei itulah yang punya kemampuan berpikir.
Dengan pikiranya
manusia dapat menciptakan sesuatu yang berguna. Ya, berguna untuk kemuliaan
Tuhan dan kepentingan sesama. Penemuan-penemuan besar lahir karena ada orang-orang yang
berpikir tentang itu. Dunia ilmu pengetahuan berkembang pesat karena ada
pribadi-pribadi yang memikirkannya siang dan malam. Untuk hal-hal positif
tertentu kita sangat berterima kasih. Namun disisi lain kehancuran bisa juga
timbul karena pikiran. Terutama pikiran-pikiran liar. Banyak contoh disekitar
kita tentang hal ini. Banyak keluarga hancur berawal dari pikiran. Perhatikanlah
SMS seseorang berikut:
Saya
sudah berkeluarga dengan suami yang baik, bahkan terlalu baik buat saya.
Dalam rumah tangga kami semuanya normal walaupun sampai sekarang belum
dikarunia anak. Namun, akhir-akhir ini saya terlalu memikirkan mantan pacar
saya dulu. Secara fisik saya tidak berselingkuh tapi hati dan pikiran saya
tidak lagi untuk suami saya.
KONTROL
Pikiran itu perlu dikontrol.
Mengapa? Kalau tidak ia akan memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Bukankah
percuma membuang energi untuk hal-hal yang tidak berfaedah? Rasul Paulus
menuliskan kepada jemaat di Filipi. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar,
semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua
yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah
semuanya itu.” (4:8). Semua hal-hal yang berfaedah itulah yang patut dipikirkan. Suatu
yang merusak dan merugikan perlu dihindari. Kitalah yang harus menguasai, bukan
sebaliknya. Membiarkan diri berlarut-larut dalam pikiran yang kurang membangun
akan berbahaya. Orang berkata: “Anda adalah apa yang Anda pikirkan.”
Memikirkan mantan pacar
misalnya, membuka peluang untuk berselingkuh secara emosional dan fisik. Cepat
atau lambat, hal itu akan terjadi. Dengan pertimbangan rasio yang sehat kita
dimampukan untuk mengontrol pikiran ini. Dengan konsisten memikirkan hal-hal
yang bermanfaat menjauhkan seseorang dari pemikiran yang tidak terpuji.
MELEKAT PADA TUHAN
Banyak orang tak berdaya untuk
mengontrol pikirannya yang liar. Hal ini dapat dimaklumi. Dosa telah merusak
pikiran manusia yang seharusnya terarah pada Kristus. Karena itu manusia harus
bergaul erat dengan Tuhan. Sama seperti Nuh dizamannya. Ketika semua orang
memebelakangi Tuhan, ia memilih bergaul dengan-Nya. Istilah bergaul identik
dengan walking with God, berjalan
bersama Allah.
Terkadang manusia terkapar tak
berdaya menghadapi godaan. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena
pergaulan dengan Tuhan yang renggang. Mungkin doa atau saat teduh mulai jarang.
Akibatnya ketika pikiran liar datang, tanggul pertahananpun jebol.
Kedekatan dengan Allah memagari
kita dari segala perbuatan yang melawan kehendak Allah. Semakin dekat dengan
Allah kita semakin membenci dosa. Sebaliknya, semakin jauh dari Allah, manusia
makin mengasihi dosa dan membenci dosa.
BERADA
DALAM KOMUNITAS
Memelihara kehidupan yang kudus
bukan hal mudah. Ada saatnya kita menjadi lemah dalam iman. Disaat itulah kita
membutuhkan sahabat yang menguatkan. Ketika kita memikirkan orang lain yang
bukan pasangan misalnya, disaat itulah sahabat mengingatkan kita.
Komunitas itu penting. Melalui
komunitas orang beriman akan saling
membangun. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa komunitas adalah kebutuhan
orang beriman masa kini. Godaan makin hebat, seharusnya komunitas
juga makin
kuat.
Dengan mengontrol pikiran,
melekat pada Tuhan, dan berada dalam komunitas yang sehat membuat kita
terhindar dari pikiran liar yang melawan Allah dan firman-Nya.
Sumber: Artikel Majalah Bahana
edisi Mei 2011 Vol 241. Oleh Aulliasiska P.

No comments:
Post a Comment