Sunday, October 14, 2012

Jangan Pura–Pura



         Umumnya perempuan yang suka berdandan akan senang dengan cara berias dan alat–alat riasan yang dapat menolong mereka menyamarkan flek di wajah atau apapun yang dapat membuat mereka merasa tampil kurang cantik. Adanya noda/flek/kerutan di wajah terasa mengganggu penampilan. Beribu macam cara dilakukan dan diusahakan demi tampil beda. Seringkali tanpa disadari ataupun diakui, kita juga ingin tampil 'cantik tanpa noda atau kerutan'. Bukan dengan memakai alat–alat make up, tetapi mengenakan topeng agar bagian yang tidak ingin terlihat, dapat tertutup dengan baik. Contoh praktis yang sering kali bisa kita temui dalam hidup ini adalah Kasih yang seringkali dikemas melalui beragam tindakan kasih, yang belum tentu menunjukkan adanya kasih dalam diri seseorang. Tidak heran ada banyak orang yang tertipu dengan tindakan kasih yang mereka harap–harapkan dari orang lain dalam hidup mereka, sebagai wujud nyata kasih tersebut. Rasul Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus  memperingatkan bahwa tindakan kasih nyatanya dapat juga dipisahkan dari kasih itu sendiri (1 Kor 13:3 "Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.)

         Tindakan kasih yang luar biasa sekalipun belum tentu dilahirkan dari kasih itu sendiri. Karena itu kita harus waspada, sebab tidak semua tindakan baik dilahirkan dari hati yang mengasihi. Tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin tindakan baik yang kita lakukan hanyalah sekedar untuk menutupi rasa bersalah kita, agar kita tidak dicap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Seringkali pula kita berespon terhadap semua ini dengan mengatakan bahwa manusia memang sulit untuk mengasihi dan hanya Tuhan sajalah yang mampu. Pertanyaannya, jika memang hanya Dia yang mampu, lalu apa artinya perintah Yesus untuk saling mengasihi? (Yoh. 13:34-35)

(to be continue......^-^)

Wednesday, October 10, 2012

Pikiran Liar


Manusia itu mahluk yang berpikir. Itulah yang membedakannya dari mahluk ciptaan Tuhan yang lain. Tumbuhan-tumbuhan dan binatang tidak dapat berpikir. Hanya manusia yang diciptakan  dengan gambar dengan-Nya, Imago Dei itulah yang punya kemampuan berpikir.
Dengan pikiranya manusia dapat menciptakan sesuatu yang berguna. Ya, berguna untuk kemuliaan Tuhan dan kepentingan sesama. Penemuan-penemuan besar lahir karena ada orang-orang yang berpikir tentang itu. Dunia ilmu pengetahuan berkembang pesat karena ada pribadi-pribadi yang memikirkannya siang dan malam. Untuk hal-hal positif tertentu kita sangat berterima kasih. Namun disisi lain kehancuran bisa juga timbul karena pikiran. Terutama pikiran-pikiran liar. Banyak contoh disekitar kita tentang hal ini. Banyak keluarga hancur berawal dari pikiran. Perhatikanlah SMS seseorang berikut:
Saya sudah berkeluarga dengan suami yang baik, bahkan terlalu baik buat saya. Dalam rumah tangga kami semuanya normal walaupun sampai sekarang belum dikarunia anak. Namun, akhir-akhir ini saya terlalu memikirkan mantan pacar saya dulu. Secara fisik saya tidak berselingkuh tapi hati dan pikiran saya tidak lagi untuk suami saya.

KONTROL

Pikiran itu perlu dikontrol. Mengapa? Kalau tidak ia akan memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Bukankah percuma membuang energi untuk hal-hal yang tidak berfaedah? Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Filipi. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (4:8). Semua hal-hal yang berfaedah itulah yang patut dipikirkan. Suatu yang merusak dan merugikan perlu dihindari. Kitalah yang harus menguasai, bukan sebaliknya. Membiarkan diri berlarut-larut dalam pikiran yang kurang membangun akan berbahaya. Orang berkata: “Anda adalah apa yang Anda pikirkan.”
Memikirkan mantan pacar misalnya, membuka peluang untuk berselingkuh secara emosional dan fisik. Cepat atau lambat, hal itu akan terjadi. Dengan pertimbangan rasio yang sehat kita dimampukan untuk mengontrol pikiran ini. Dengan konsisten memikirkan hal-hal yang bermanfaat menjauhkan seseorang dari pemikiran yang tidak terpuji.

MELEKAT PADA TUHAN

Banyak orang tak berdaya untuk mengontrol pikirannya yang liar. Hal ini dapat dimaklumi. Dosa telah merusak pikiran manusia yang seharusnya terarah pada Kristus. Karena itu manusia harus bergaul erat dengan Tuhan. Sama seperti Nuh dizamannya. Ketika semua orang memebelakangi Tuhan, ia memilih bergaul dengan-Nya. Istilah bergaul identik dengan walking with God, berjalan bersama Allah.
Terkadang manusia terkapar tak berdaya menghadapi godaan. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena pergaulan dengan Tuhan yang renggang. Mungkin doa atau saat teduh mulai jarang. Akibatnya ketika pikiran liar datang, tanggul pertahananpun jebol.
Kedekatan dengan Allah memagari kita dari segala perbuatan yang melawan kehendak Allah. Semakin dekat dengan Allah kita semakin membenci dosa. Sebaliknya, semakin jauh dari Allah, manusia makin mengasihi dosa dan membenci dosa.

BERADA DALAM KOMUNITAS

Memelihara kehidupan yang kudus bukan hal mudah. Ada saatnya kita menjadi lemah dalam iman. Disaat itulah kita membutuhkan sahabat yang menguatkan. Ketika kita memikirkan orang lain yang bukan pasangan misalnya, disaat itulah sahabat mengingatkan kita.
Komunitas itu penting. Melalui komunitas  orang beriman akan saling membangun. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa komunitas adalah kebutuhan orang beriman masa kini. Godaan makin hebat, seharusnya komunitas juga makin kuat.
Dengan mengontrol pikiran, melekat pada Tuhan, dan berada dalam komunitas yang sehat membuat kita terhindar dari pikiran liar yang melawan Allah dan firman-Nya.

Sumber: Artikel Majalah Bahana edisi Mei 2011 Vol 241. Oleh Aulliasiska P.